Buku • 2025
Eduecopreneurship berbasis local wisdom

Buku ini mengupas penerapan eduecopreneurship — perpaduan pendidikan, kewirausahaan, dan kearifan lokal — melalui pengembangan Batik Tulis Malangan karya siswa SMPN 2 Sumberpucung. Mulai dari strategi manajemen IT, digitalisasi pemasaran, hingga peningkatan kualitas produk, buku ini menawarkan model nyata bagaimana budaya lokal dapat dilestarikan sekaligus menjadi sarana belajar berwirausaha di era digital.
Buku ini menghadirkan sebuah model pemberdayaan yang memadukan tiga hal yang selama ini kerap berjalan sendiri-sendiri: pendidikan, kewirausahaan, dan pelestarian budaya. Melalui konsep eduecopreneurship yang berakar pada kearifan lokal (local wisdom), pembaca diajak menyelami bagaimana Batik Tulis Malangan — dengan motif khas seperti Teratai Singhasari dan Topeng Malangan — tumbuh dari ruang kelas menjadi produk yang siap bersaing di pasar digital.
Berangkat dari pengalaman nyata di SMPN 2 Sumberpucung, buku ini menelaborasi perjalanan panjang dari canting hingga konten. Pada bagian awal, pembaca dikenalkan pada filosofi eduecopreneurship dan nilai kearifan lokal yang menjadi fondasi program. Bagian berikutnya membahas proses produksi batik oleh siswa, tantangan menjaga mutu, serta strategi standardisasi kualitas yang diterapkan agar setiap karya layak dipasarkan.
Inti buku terletak pada dua pilar utama. Pilar pertama, manajemen teknologi informasi, menguraikan bagaimana usaha batik sekolah ditata secara digital — mulai dari arsitektur sistem informasi, pemanfaatan situs web sebagai etalase, integrasi media sosial dan marketplace, hingga pengelolaan data dan keuangan sederhana. Pilar kedua, strategi peningkatan kualitas produk, memaparkan standardisasi proses produksi, inovasi desain berbasis umpan balik digital, penguatan kompetensi pengrajin muda, pengembangan kemasan dan citra merek, serta pentingnya sertifikasi dan labelisasi.
Yang membuat buku ini berbeda adalah kejujurannya dalam memotret tantangan lapangan — keterbatasan infrastruktur, kondisi usaha yang masih semi-digital, hingga keterbatasan sumber daya pengelola — sekaligus menawarkan solusi yang membumi dan dapat direplikasi oleh sekolah maupun komunitas lain.
Ditujukan bagi pendidik, penggiat kewirausahaan, pelaku UMKM, serta siapa pun yang peduli pada pelestarian budaya, buku ini bukan sekadar laporan program, melainkan panduan sekaligus inspirasi. Ia membuktikan bahwa di tangan generasi muda, warisan budaya tidak hanya dapat dijaga, tetapi juga dihidupkan kembali dan diberdayakan secara ekonomi di era digital.
